02/10/12

corak-pendidikan-impian-masa depan
Info pendidikan  Sepertinya sumberdaya manusia ( human resource ) Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti; Singapura, Malaysia, Thailand dan Pilipina. Hm, pernyataan ini bukan lontaran kata klise semata. Ada alasan yang mendukung kenyataan ini, paling tidak  didasarkan atas Indek Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2011. Seperti diketahui, berdasarkan penelitian UNDP ( 2011), Indonesia berada di urutan ke 124 dari 187 negara di dunia yang diteliti. Sementara itu Singapura diurutan (26), Malaysia (61), Thailand (103) dan Pilipina (112). Penelitian badan dunia UNDP tersebut didasarkan atas kriteria pendidikan, kesehatan dan pendapatan.

Suatu kondisi yang menjadi tantangan bagi sumberdaya manusia Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar (241 juta  jiwa) atau  urutan ke 4 di dunia pada rahun 2011. Namun penyebaran penduduk tidak merata dan mayoritas terkonsentrasi di pulau Jawa (58 %). Yang mengejutkan adalah  usia produktif yang tinggi (70%) namun kualitas produktivitasnya relatif rendah. Dalam sektor pendidikan apalagi, pemerataan pelayanan pendidikan belum terpenuhi akibat keterbatasan yang dimiliki negeri ini.

Sumberdaya manusia berkaitan erat dengan pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu kriteria dalam penentuan indek pembangunan manusia, pantas menjadi pusat perhatian kita. Pendidikan di negeri ini secara global belum sesuai impian kita. Di tingkat lembaga pendidikan sekolah, misalnya,  masih mengedepankan persoalan hasil belajar. Pendidikan  belum berorientasi kepada bagaimana proses belajar yang dijalankan. Indikasinya adalah kecenderungan menjadikan nilai evaluasi murni (NEM)  menjadi primadona. Padahal NEM hanyalah salah satu tolok ukur kualitas pendidikan dan belum mencerminkan kualitas pendidikan secara komprehensif.  Maka pantaslah, anak yang dianggap berkemampuan tinggi karena NEM-nya tinggi tidak sanggup berbuat apa-apa ketika terjun ke tengah masyarakat. Mereka pintar di otak namun masih lemah dalam keterampilan dan keahlian dalam hidup (lifes-klill)

Lalu pendidikan yang bagaimana yang kita impikan di masa depan? Pendidikan impian masa depan adalah pendidikan yang mengutamakan proses pembelajaran. Proses yangt berkualitas akan mengantarkan pendidikan kepada hasil yang berkualitas. Guru yang bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan pembelajaran ini diharapkan tidak hanya sibuk memikirkan dan mengurus kenaikan pangkat, mengurus administrasi pencairan tunjangan sertifikasi. Sebaliknya, guru yang diimpikan adalah guru yang banyak menyediakan waktunya untuk memikirkan peserta didik dan proses pembelajaran di kelas. Guru profesional yang diimpikan tidak hanya guru yang pintar mendisain perangkat pembelajaran namun berkompeten melaksanakan disainnya tersebut di ruang kelas. Disain pembelajaran yang telah dibuat guru merupakan pertanggung jawaban ilmiah dari lencana profesional yang disandangnya. Tidak lucu kalau guru profesional  kelabakan dalam melaksanakan hasil disain pembelajarannya tersebut di ruang kelas.

Kepala sekolah  impian masa depan  adalah seorang figur pimpinan memiliki simpati dan empati yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya. Pimpinan yang menguasai persoalan pendidikan yang sedang dihadapi,  tauladan bagi guru, bukan kepala sekolah yang  banyak duduk di ruang kepala sekolah, atau sering mondar-mandir meninggalkan sekolah dengan alasan urusan dinas luar. Atau hanya latah mengucapkan; kata bapak kepala dinas, kata bapak bupati/walikota, untuk menakut-nakuti guru.

Peserta didik impian masa depan adalah perseta didik yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan berkepribadian yang baik. Bukan peserta didik yang suka tawuran, suka menyusahkan orang tua dan masyarakat sekitarnya. Sebaliknya suka berdiskusi, menyenangkan orang tua dan lingkungan sekitarnya. Sebab, sepuluh atau duapuluh tahun berikutnya mereka ini akan menjadi pemimpin yang menggantikan pimpinan yang sekarang ini.

Pendidikan impian masa depan adalah pendidikan yang independen, terlepas dari kepentingan politik sesaat. Pendidikan tidak dijadikan sebagai jargon politik melainkan dijadikan sebagai sugestif dan semangat untuk memajukan pendidikan di negeri tercinta ini.

Pendidikan impian masa depan adalah pendidikan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai. Proses belajar sulit terlaksana dengan baik tanpa ditunjang sarana dan prasarana belajar yang memadai. Tidak terdengar lagi jawaban, dana kurang mencukupi, anggaran belum ada, dan segala macam alasan lainnya.

Memang, mewujudkan impian-impian pendidikan masa depan tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tidaklah cukup dalam waktu yang singkat melainkian butuh proses, begitu kata orang bijak. Allahuiallambissowaab…*

Yayasan Panti Asuhan Kristen Dorkas

KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA Pendidikan tinggi Indonesia gagal imbangi pasar

JAKARTA. Sistem pendidikan tinggi di Indonesia gagal mengimbangi pengembangan ekonomi yang sangat pesat. Tuntutan dari perkembangan ekonomi membuat perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas di lingkungan kerja modern di Asia Tenggara.
Saat ini, investor asing sudah berbondong-bondong datang menanamkan uangnya ke Indonesia. Dengan jumlah penduduk sebesar 240 juta jiwa, membuat pasar Indonesia sangat menggiurkan, apalagi dengan sumber daya alam yang melimpah, serta rendahnya upah pekerja. Inilah yang membuat Indonesia menjadi sasaran empuk para investor.
Sayangnya, lulusan perguruan tinggi yang berkualitas di Indonesia terbilang langka. Banyak perusahaan sulit menemukan orang yang bisa berpikir kritis dan mampu membuat transisi yang mulus dalam bekerja.
“Lulusan universitas biasanya tidak memiliki pengalaman kerja yang cukup,” kata Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam laporan tentang pendidikan tinggi di Indonesia.
Laporan tersebut juga menemukan kesenjangan dalam berpikir, keterampilan teknis, serta berperilaku. Kondisi ini diperkuat dengan hasil survei Bank Dunia, yang menyebutkan, 20%-25% alumnus perguruan tinggi di Indonesia harus di mendapat pelatihan sebelum bekerja.
OECD melansir, universitas di Indonesia termasuk sebagai universitas yang tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Kondisi perguruan tinggi di Indonesia itu berbanding terbalik dengan di India yang banyak banyak memproduksi doktor, insinyur, dan ilmuwan tingkat dunia.
Hasil survey yang dilakukan lembaga peringkat perguruan tinggi dunia, yaitu Times Higher Education menyebutkan, tidak ada satupun dari 92 universitas negeri di Indonesia atau sekitar 3.000 universitas swasta di Indonesia yang masuk dalam deretan 400 institusi perguruan tinggi terbaik dunia.
Hal ini terlepas dari fakta, bahwa Indonesia sering kali disandingkan dengan negara anggota BRICS, yakni Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, yang semuanya telah berhasil membawa perguruan tingginya masuk ke dalam daftar instansi terbaik dunia.
Lina Marianti, karyawan JAC Recruitment di Jakarta menyebutkan, perusahaan asing menolak lebih dari separuh lulusan universitas dari Indonesia. “Kami ingin memberikan yang terbaik, namun usaha terbaik kami masih belum sesuai dengan ekspektasi perusahaan,” kata Lina.
Menurut Lina, perusahaan asing mengeluhkan kualitas lulusan perguruan tinggi dalam negeri yang kurang mampu menerapkan teori dalam praktik. Lulusan dalam negeri dinilai kurang memiliki jiwa kepemimpinan serta kurang memiliki kemampuan analisis. “Selain itu, banyak yang kurang menguasai bahasa Inggris,” jelas Lina.
Pendapat yang sama juga disampaikan Rina, manajer sumber daya manusia (SDM) untuk perusahaan kimia milik asing. Ia bilang, banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang tidak memiliki etika bekerja yang baik.
“Rasanya sulit percaya bahwa mereka adalah lulusan perguruan tinggi. Tetapi mereka kerap mengirim email kosong tanpa cover letter untuk melamar pekerjaan, tidak hadir dalam panggilan wawancara, dan memohon pengunduran diri lewat pesan singkat,” kata Rina.
“Mereka ingin disuapi terus. Harus diberi tahu harus melakukan apa,” imbuhnya. Rendahnya kualitas pendidikan di dalam negeri itu, membuat sebagian orang Indonesia belajar ke luar negeri.
Banyak pejabat tinggi dan pengusaha sukses paling tidak sudah mengantongi gelar sarjana dari beragam universitas di luar negeri. Kepala Indonesian International Education Consultants Association Sumarjono Suwito mengatakan, Indonesia berada di koridor yang benar tetapi terdesak dari negara lain di Asia.
“Negara seperti China, India, Singapura, Malaysia, dan yang terbaru Thailand telah fokus di bidang pendidikan. Mereka memiliki anggaran sendiri untuk memajukan pendidikan nasional,” kata Suwito. Indonesia berusaha mengejar ketertinggalan dalam negeri sejak lima tahun terakhir, tetapi masih berjalan lamban.
Tersendatnya sektor pendidikan di Indonesia juga dipengaruhi tingginya tingkat korupsi di negeri ini. Dana yang seharusnya digunakan untuk membangun gedung sekolah menghilang begitu saja, atau ada rumor yang bilang, siapa saja bisa bersekolah di sekolah terbaik asal siap membayar lebih.
Sementara itu, Wiyogo Prio Wicaksono, mahasiswa Universitas Indonesia mengatakan, ia banyak menghabiskan waktu di luar jam kuliah dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan kemampuan non-akademis.
“Banyak teman saya sukses di bidang pekerjaan walaupun dulu tidak menonjol di bidang akademis. Namun, mereka pandai bersosialisasi dan menentukan sikap. Saya rasa hal ini sangat penting dan tidak bisa didapatkan hanya dengan belajar di kelas,” kata Wiyogo.