21/10/12




BABAD PULASARI

Oleh : Bhagawan Dwija

Mudah-mudahan tiada halangan !

Permohonan maaf hamba ke hadapan arwah para leluhur yang disemayamkan dalam wujud Ongkara dan selalu dipuja dengan hati suci. Dengan memuja dan memuji kebesaran Sanghyang Siwa semoga penulis terhindar dari segala kutukan, derita, cemar, duka-nestapa, dan halangan lainnya. Mudah-mudahan tujuan hamba yang suci ini berhasil serta bebas dari dosa-dosa karena menguraikan cerita leluhur di masa lampau, semoga direstui sehingga mendapat kejayaan, keselamatan, keabadian, panjang usia, sampai dengan seluruh keluarga turun temurun.

15/10/12

 PENDIDIKAN GLOBAL



A. LATAR BELAKANG TIMBULNYA PENDIDIKAN GLOBAL
Saat ini dunia semakin lama tumbuh menjadi “semakin kecil” seiring dengan timbulnya saling ketergantungan diantara negara-negara, suatu hal yang menunjukkan ciri sebuah era baru, yaitu era globalisasi. Oleh karenanya dunia pendidikanpun harus berubah dari pendidikan lokal menjadi pendidikan yang berwawasan global. Peta ekonomi kita, politik, sosial dan sistem lingkungan hidup telah saling terhubung hingga pada tingkat tertentu sehingga kita harus sadar akan dunia yang semakin menyatu. Ini berarti bahwa pemahaman akan saling ketergantungan dalam sistem di dunia mengharuskan kita untuk saling menghargai perbedaan nilai dan beragai sudut pandang yang ada.
 Pura Penataran Dalem Ped
 


Pura Penataran Agung Ped
Semburkan Atmosfer Kekuatan Ratu Gede Nusa

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/6/7/bd1.htm
Di sebuah desa, persisnya di Desa Ped, Sampalan, Nusa Penida, ada sebuah pura yang sangat terkenal di seluruh pelosok Bali. Pura Penataran Agung Ped nama tempat suci itu. Berada sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai lautan Selat Nusa. Karena pengaruhnya yang sangat luas yakni seluruh pelosok Bali, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat. Pura ini selalu dipadati pemedek untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kerahayuan, dan ketenangan. Hingga saat ini, pura ini sangat terkenal sebagai salah satu objek wisata spiritual yang paling diminati.
Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja -- Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.
Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang Selayang Pandang Pura Ped beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.
Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.
Saking saktinya, tapel-tapel itu bahkan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal juga sempat kehilangan tiga buah tapel. Ternyata, begitu menyaksikan tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu adalah tiga tapel yang sempat menghilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga Nusa menjaga dengan baik dan secara terus-menerus melakukan upacara-upacara sebagaimana mestinya.

SEJARAH KOTA SINGARAJA



Tersebutlah Istana Gelgel pada sekitar tahun 1568 dalam suasana tenang, dimana Raja Sri Aji Dalem Sigening menitahkan putranda Ki Barak Sakti, supaya kembali ketempat tumpah darah Bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Barak Panji bersama Bunda Sri Luh Pasek, setelah memohon diri kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring Baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot
Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara yang sangat dingin menggigilkan, menembus celah-celah bukit, mendaki Gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang agak mendatar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Sekali mereka makan ketupat, mereka sembahyang, kemudian mereka diperciki air/tirta oleh Sri Luh Pasek, demi keselamatan perjalanannya, belakangan tempat itu diberi nama “YEH KETIPAT”. Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di Desa Gendis/Panji dengan selamat.

Pura di Bali

 

Berbeda dengan candi-candi di Jawa, candi, atau yang di Bali disebut pura, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Pura di Bali merupakan tempat pemujaan umat Hindu.  Setiap keluarga Hindu memiliki pura keluarga untuk memuja Hyang Widhi dan leluhur keluarga, sehingga pura di Pulau Bali jumlahnya mencapai ribuan.
Pura Kahyangan Desa. Setiap desa umumnya memiliki tiga pura utama yang disebut Pura Tiga Kahyangan atau Pura Tri Kahyangan (tri = tiga), yaitu pura-pura tempat pemujaan Sang Hyang Widi Wasa dalam tiga perwujudan kekuasaan-Nya: Pura Desa untuk memuja Dewa Brahma (Sang Pencipta), Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu (Sang Pemelihara), dan Pura Dalem untuk memuja Dewa Syiwa (Sang Pemusnah). Pura Desa disebut juga Bale Agung, karena pura yang umumnya terletak di pusat desa ini juga digunakan sebagai tempat melaksanakan musyawarah desa.

09/10/12

 SEJARAH SINGKAT DESA SUBUK

Menelusuri sejarah singkat Desa Subuk bukanlah pekerjaan yang mudah, hal ini disebabkan karena tidak ada peninggalan sejarah yang bisa digunakan sebagai petunjuk untuk menelusuri sejarah Desa Subuk, kami menggunakan dan menganalisa beberapa peristiwa dan menghubungkannya dengan informasi dan falta yang kami himpun dari para tetua desa.

Adapun sumber – sumber yang kami jadikan pedoman untuk menelusuri sejarah Desa Subuk 

1.    Peristiwa berdirinya Pura Batur Sai, menyebutkan pada tahun 1327 saka I Gusti Made Pulasari    keturunan dari Dalem Tarukan mendirikan Pura Batur Sai.

2.    Pada tahun 1808 Kerajaan Buleleng yang terkenal dengan pasukan goaknya berperang melawan pasukan kerajaan Tabanan yang terkenal pasukan Tabuhannya yang memperebutkan daerah perbatasan. Dalam perang ini Kerajaan Buleleng tenderita kekealahan. Pasukan Tabuhan Kerajaan Tabanan sempat mengobrak abrik rakyat yang ada di sekitarnya, termasuk keturunan I Gusti Gede Pulasari penyungsung Pura Sai. Karena tidak sanggup menghadapi serangan pasukan Tabuhan akhirnya banyak yang menguasai ke Desa Padang Mesawen ( Sekarang Desa Kekeran ), ada pula yang mengungsi ke Desa Busung Magelung ( Sekarang Desa Busungbiu ). Keturunan yang pindah ke Padang Mesawen akhirnya mendirikan sebuah penghayatan disuatu tempat antara Padang Mesawen dengan Batur Sai yang sekarang bernama Pura Batur.

3.    Lama – kelamaan ada keturunan beliau yang mendirikan pemukiman disekitar Pura Batur tersebut, yang selanjutnya diikuti pula oleh penduduk lainnya. Kurang lebih sekitar tahun 1810 masehi sudah ada pemukiman yang di perkirakan jumlahnya 15 KK. Lokasi tempat tinggal mereka disebut Lebah Sari mungkin karena tempatnya lebah ( rendah ). Selanjutnya daerah pemukiman tersebut menurut penuturan tetua diserang oleh semut sampai ada yang meninggal. Untuk itu akhirnya para tetua sepakat memindahkan tempat pemukiman ketempat yang lebih tinggi selanjutnya diperkirakan tahun 1820 sudah berdiri sebuah desa baru di tempat sekarang dan diberi nama Desa Subuk.Kata Subuk menurut  tetua berasal dari Ibuk karena dulu di tempat lama diibukan ( disibukkan ) oleh semut, ada pula yan g menyebutkan berasal dari kata pasu buk, hingga sekarang desa tersebut diberi nama Subuk.

 KEPEMIMPINAN

Adapun Perbekel yang pernah memegang jabatan di Desa Subuk sejak zaman dulu sampai sekarang yaitu :
1.      Pasek Kotogan ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1840 s/d thun 1840.
2.      Pan Sumiarti ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak Tahun 1840 s/d tahun 1870.
3.      Imandor ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1870 s/d tahun 1895.
4.      Pan Rinis ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1895 s/d tahun 1920.
5.      Pan Luh Dadi ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1920 s/d 1948.
6.      Pan Surat / I Brana ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1948 s/d 1955.
7.      Pan Warsih ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1955 s/d 1969.
8.      Ketut Sumandra ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1969 s/d 1974.
9.      Wayan Surat yang memimpin Desa Subuk Desa Subuk sejak tahun 1974 s/d 1979.
10.    I Made Windu ( almarhum ) yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1979 s/d 1988.
11.    Wayan Suka Dana yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1988 s/d 1991.
12.    I Ketut Wageadnya yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1991 s/d 1999.
13.    I Ketut Suteken yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 1999 s/d 2000
14.    I Ketut Wageadnya yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 2000 s/d 2007
15.    I Wayan Árnica yang memimpin Desa Subuk sejak tahun 2007 s/d Semarang

Demikianlah sejarah singkat Desa Subuk dengan pemimpin desanya yang setiap saat juga mengalami   perubahan sesuai dengan perkembangan zaman.